TIDAK MAU MENGALAH

Nara Sumber:

Pdt. Dr. Paul Gunadi

Abstrak:

Pernikahan menuntut pasangan untuk saling menyesuaikan diri. Di dalam proses menyesuaikan diri kadang kita terlibat konflik akibat perbedaan yang ada. Untuk dapat menyelesaikan konflik diperlukan sikap rela mengalah. Masalahnya adalah kadang kita tidak mudah mengalah dan memang ada sebagian yang memiliki sikap tidak mau mengalah. Sikap tidak mau mengalah bukanlah sikap kompetitif—kendati keduanya memunyai persamaan. Bila sikap kompetitif lahir dari keinginan untuk menjadi yang terutama alias nomor satu, sikap tidak mau mengalah lahir dari dua sumber yaitu tidak ingin mengaku salah dan tidak ingin dirugikan.

MP3:

3.4 MB

Play Audio:
Click to play

Transkrip

Isi:

Saudara-Saudara pendengar yang kami kasihi, di mana pun anda berada. Anda kembali bersama kami dalam acara TELAGA (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Saya Gunawan Santoso dari Lembaga Bina Keluarga Kristen akan berbincang-bincang dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi. Beliau adalah seorang pakar dalam bidang konseling serta dosen di Seminari Alkitab Asia Tenggara Malang. Perbincangan kami kali ini tentang “Tidak Mau Mengalah”. Kami percaya acara ini pasti bermanfaat bagi kita sekalian dan dari studio kami mengucapkan selamat mengikuti.

GS : Kalau orang tidak mau mengalah, Pak Paul, seringkali karena dia berpendapat mengalah itu sama dengan kalah padahal belum tentu hal yang seperti itu terjadi, Pak Paul. Apalagi di dalam hubungan keluarga, kalau tidak ada yang mau mengalah maka keluarga itu akan tercerai berai pada akhirnya. Apa kaitannya di dalam pernikahan ini, Pak Paul ?

PG : Itu tepat sekali, pernikahan menuntut kita untuk saling menyesuaikan diri dan didalam proses menyesuaikan diri kadang kita akan terlibat konflik akibat perbedaan yang ada. Untuk dapat menyelesaikan konflik maka diperlukan sikap rela mengalah. Idealnya konflik bisa diselesaikan dengan yang disebut “Win-Win Solution”, dua-duanya senang. Tapi itu kadang-kadang bisa terjadi bahkan yang lebih sering adalah sebelum bisa sampai kepada solusi dua-duanya senang dan dua-duanya menang, seringkali yang satu harus mengalah. Masalahnya adalah kadang kita tidak mudah mengalah dan memang ada sebagian orang tidak memiliki sikap mau mengalah itu. Jadi saya kira perlu kita sekarang melihat sikap tidak mau mengalah ini dengan lebih seksama.

GS : Sebenarnya sikap tidak mau mengalah ini juga terbentuk sejak kecil, Pak Paul. Bahkan terhadap saudara kandungnya pun sudah kelihatan bahwa dia seorang yang tidak mau mengalah.

PG : Betul sekali. Kadang kita merancukan sikap tidak mau mengalah ini dengan kompetitif. Sebenarnya ini dua hal yang berbeda, jadi ada anak-anak yang sejak kecil memang kompetitif, sebenarnya apa bedanya antara sikap kompetitif dan tidak mau mengalah ? Sikap kompetitif itu lahir dari keinginan untuk menjadi yang terutama alias nomor satu. Ada anak-anak yang seperti itu, jadi dia harus menang, dia harus menjadi nomor satu, dia harus menjadi yang paling baik, di sekolah dia juga kompetitif sekali, dia harus menjadi yang paling pintar di kelas dan sebagainya. Kalau sikap yang berikutnya yaitu tidak mau mengalah, bukanlah kompetitif tapi itu adalah sikap yang lahir dari sekurang-kurangnya dua sumber yaitu tidak ingin mengaku salah dan tidak ingin dirugikan. Jadi sekali lagi beda, kalau kompetitif mau menjadi yang nomor satu, kalau tidak mau mengalah sebenarnya itu keluar dari dua sumber yaitu tidak mau mengaku salah dan tidak ingin dirugikan. Ini yang memang membuat orang-orang ini susah sekali untuk mengalah.

GS : Kalau yang kompetitif itu mungkin masih ada sisi positifnya, sehingga dia terpacu untuk menjadi yang nomor satu, mencapai prestasi yang terbaik. Tapi kalau sampai tidak mau mengalah maka hampir semuanya negatif dibandingkan positifnya.

PG : Saya kira demikian, jadi terus terang saya tidak bisa melihat apa segi baiknya dari sikap tidak mau mengalah ini.

GS : Bagaimana kalau kita membicarakan tentang sikap tidak ingin mengaku salah itu tadi, Pak Paul ?

PG : Baiklah. Tidak ingin mengaku salah memang bisa keluar dari berbagai situasi kehidupan. Misalnya bila kita ini dibesarkan dalam keluarga yang sarat kritikan maka besar kemungkinan kita akan mengembangkan sikap sensitif terhadap kritikan. Kita tidak suka dikritik karena dulu sudah kenyang dikritik. Begitu pekanya kita terhadap kritikan sehingga apapun yang beraromakan kritikan pasti kita halau dan lawan. Masalahnya adalah tidak semua masukan atau apa yang orang katakan kepada kita sebenarnya merupakan kritikan, tidak semuanya. Namun karena kita sudah menjadi terlalu peka, pada akhirnya kita sulit duduk diam dan mendengarkan tanggapan orang terhadap diri kita, pada akhirnya kita mengembangkan sikap tidak mau mengalah sama sekali, kita tidak ingin mengalah sebab kita beranggapan bahwa kita mengalah berarti mengaku salah dan mengaku salah bagi kita sama dengan bencana, sebab dulu kalau ketahuan salah maka habis sudah diomeli dan sebagainya. Itu sebabnya pada akhirnya didalam pertengkaran dengan pasangan kita maka kita itu tidak lagi melihat duduk masalahnya, melainkan kita hanya fokus pada upaya untuk memenangkan argumentasi sebab tidak boleh ketahuan kalau kita salah. Itu salah satu sumber kita tidak mau mengalah, tidak mau mengaku salah.

GS : Kadang-kadang dengan cara menutupi kesalahan itu lalu mengalihkan persoalan ke persoalan yang lain, Pak Paul.

PG : Kadang-kadang itu yang kita lakukan, daripada kita tertangkap di sini kita ketahuan salah maka kita melompat-lompat ke soal yang lain dan kita mengajukan argumentasi yang berbeda, soal-soal yang pernah terjadi dulu. Pokoknya supaya kita tidak bisa dikatakan, “kamu salah di situ”.

GS : Masalah ini berasal dari keluarga artinya terbentuk dari keluarga karena suka mengkritik kita, itu pun sebenarnya bukan suatu alasan orang tidak pernah belajar mengalah, sekalipun dia dibesarkan dalam suatu keluarga yang seperti itu, dikritik dan terus disalahkan. Tapi kalau dia mau berubah sebenarnya bisa, Pak Paul.

PG : Saya setuju. Jadi dia harus mengingatkan dirinya terus menerus bahwa sebenarnya bukanlah orang tua saya yang sedang menyalah-nyalahkan saya, saya bukannya sedang diancam oleh bencana jika saya mengaku salah, tidak seperti itu. Jadi kalau kita bisa mengingatkan diri kita dan bahwa yang berkata-kata kepada kita adalah orang yang mengasihi kita yaitu istri atau suami kita, maka kita lebih mudah untuk berkata, “Baiklah saya dengarkan dan saya tidak harus menolak untuk mengaku salah”, tidak apa-apa mengaku salah kalau memang saya salah dan jangan takut kita nanti akan diserang oleh apa-apa dan diserang seperti apa oleh dia. Jadi kita harus membangun sebuah relasi yang kuat yang kita yakini bahwa pasangan kita itu tidak berniat jahat, bahwa dia itu bermaksud baik kepada kita. Kalau kita bisa terima dia memang bermaksud baik, dia mengasihi saya, maka terima kalau kita memang salah ya harus mengakui salah dan jangan ngotot tidak mau disalahkan.

GS : Jadi di situ peranan pasangan besar sekali untuk bisa menyembuhkan orang ini dari sakit yang tidak ingin mengaku salah. Kalau pasangan kita memberikan rasa aman ketika kita mengaku salah maka itu akan sangat menolong, Pak Paul.

PG : Saya setuju. Jadi pasangan harus sering-sering mengkomunikasikan bahwa dia mengasihi kita dan sering-sering mengatakan, “Kalau kamu tidak mau mengaku salah pun juga tidak apa-apa saya terima” waktu kita tahu kita disayang dengan rasa aman seperti itu maka kita lebih berani untuk berkata, “Iya saya salah dan saya minta maaf”.

GS : Memang dipermasalahkan antara benar dan salah dan mungkin ketemu terus salahnya dan orang semakin takut untuk mengakui kesalahannya karena banyak sekali, dia pikir kesalahannya hanya sedikit padahal setelah diungkap-diungkap bisa tiga atau empat kesalahan yang semuanya betul.

PG : Betul. Jadi memang kalau kita sadari seperti ini maka kita harus berusaha sekeras mungkin untuk mengurangi dan pada akhirnya menghilangkannya. Sebab terus terang kalau pasangan kita seperti ini sikapnya yaitu susah mengalah maka sulit bagi kita mencapai titik temu didalam perbedaan pendapat sebab sasarannya hanyalah satu yaitu dia benar dan tidak peduli apakah dia benar atau salah, apapun yang kita lakukan untuk menjelaskan duduk masalah biasanya akan menemui jalan buntu. Pada akhirnya kita enggan untuk berdiskusi dengan dia, malas untuk mengoreksi pasangan, sebab kita sudah menduga bahwa dia tidak akan terbuka untuk melihat andilnya apalagi kesalahannya. Kalau kita sudah memunyai persepsi yang seperti itu akhirnya tidak bisa tidak, relasi pasti retak sebab kita merasa pintu ditutup dan kalau kita ketuk-ketuk pintu kita tidak diberi masuk sebab dia tidak akan mengaku salah. Dia selalu harus benar dan dia itu memunyai sikap tidak mau mengalah akhirnya kita frustrasi angkat tangan, sebetulnya saat kita angkat tangan maka relasi kita sudah mulai retak dan makin menjauh, lama kelamaan berakibat pada kasih sayang kita, makin hari makin merosot.

GS : Kalau kita memang betul-betul mengasihi pasangan kita sebetulnya kita boleh terlalu cepat mengalah, karena makin cepat kita mengalah maka makin kita merasa benar dan akhirnya makin runyam kehidupan rumah tangga itu.

PG : Betul. Tapi kita tidak bisa melawannya dengan perdebatan, karena dia akan terus bertahan, dia akan lompat sana dan lompat sini dan dia tidak akan mau mengakui bahwa dia itu salah sebab dia tidak bisa terima. Maka kalau pun kita mau tetap menghadapi dia supaya kita tidak menyerah, tapi perlu strategi yaitu waktu dia berdebat maka jangan teruskan dan diam saja, nanti setelah dia tenang baru kita katakan, “Saya tetap mengasihi kamu apa pun yang kamu lakukan saya tetap mengasihi kamu”. Jadi kita hanya yakinkan itu saja. Waktu dia melihat kita tetap mengasihi dia dan kita tidak membuangnya maka perlahan-lahan mungkin dia lebih tergerak dan lebih aman untuk mengakui kesalahan.

GS : Kalau tidak ingin dirugikan ini bagaimana, Pak Paul ?

PG : Ini adalah salah satu sumber lain lagi yang membuat seseorang itu susah sekali untuk mengalah. Ada orang yang tidak mau mengalah sebab baginya mengalah berarti dirugikan, kalau mengalah kita kehilangan sesuatu. Jadi saya menduga orang ini memang punya masalah dengan ketamakan oleh karena dia tamak, dia tidak bersedia mengalami kerugian sedikit pun. Akhirnya dalam setiap perundingan kalau ada konflik misalnya, apa pun akan dilakukannya asal dia tidak perlu berkorban bagi yang lain dan menderita kerugian karenanya. Pokoknya batasnya itu yaitu dia tidak boleh rugi, kalau dia beranggapan gara-gara saya mengalah maka saya akan rugi, sebab bagi orang seperti ini benar-benar mengalah berarti kehilangan sesuatu yang berharga, tapi masalahnya adalah bagi dia hampir semua hal yang menurut dia berharga. Itu sebabnya dia bersikeras memertahankan posisinya sebab bagi dia, dia tidak boleh kehilangan suatu apa pun.

GS : Tentu saja dalam hal ini bukan saja dalam hal-hal yang bersifat materi, tapi juga menyangkut perasaan, harga diri dan lain-lain, yang penting dia tidak mau rugi. Tapi mau merugikan orang lain dan ini masalahnya.

PG : Betul. Jadinya dia sangat “selfish” karena dia tidak memusingkan orang rugi atau tidak asalkan dia tidak rugi, tidak boleh mundur 1cm.

GS : Apakah faktor latar balakang keluarga itu berpengaruh pada orang yang seperti ini, Pak Paul ?

PG : Saya kira ada, misalnya saya menduga orang yang seperti ini lahir dan besar dalam keluarga yang minim sehingga misalnya dia harus berjuang untuk hidup. Itu sebabnya dalam segala hal menjadi penting termasuk dan mungkin terutama harga dirinya. Jadi dia tidak mudah mengalah sebab mengalah berarti mengorbankan dan melepaskan sesuatu yang dinilainya berharga. Jadi dia akan pertahankan mati-matian atau misalkan dulu karena dia tidak punya apa-apa yang bisa dibanggakan jadi kenyang dihina orang, maka sekarang pun dia tidak bisa mundur, dia tidak boleh kalah sebab kalau sampai dia kalah maka dia akan kehilangan respek dan orang tidak akan menghargai dan menghormati dia, jadi dia bersikeras tidak boleh sekali pun mundur atau mengalah. Mungkin itu latar belakang dari orang itu, sehingga di masa sekarang ini dia menjadi orang yang begitu kaku dalam hal mengalah.

GS : Ada orang yang mengatakan bahwa dia bukanlah orang yang tidak mau mengalah, tapi “saya ini orang yang berpegang pada prinsip”. Tapi bagi kita yang melihat di luar dirinya mengatakan, “Ini orang yang keras kepada yang tidak mau mengalah” dan bagaimana mempertemukan konsep itu, Pak Paul ?

PG : Orang ini tahu kalau berkata apa adanya, “Bahwa saya orang yang tidak mau mengalah” itu adalah hal yang buruk, maka kita seringkali membungkus sifat jelek kita dengan sebuah bungkus yang indah yaitu pegang prinsip. Belum tentu pegang prinsip, sebab kalau semua hal menjadi prinsip berarti bukannya masalah prinsip lagi tapi masalah dirinya yang memang tidak boleh mengalah dan harus selalu menang. Memang kalau kita hidup dengan orang yang seperti ini, maka alangkah sukarnya karena pernikahan mengharuskan kita untuk melepaskan diri dari hal-hal yang kita anggap penting dan itu merupakan kodrat pernikahan sebab kalau dua-dua bersikeras bahwa segalanya penting dan tidak boleh dikompromikan maka akhirnya kita tidak akan dapat mencapai keselarasan dan makin sering kita bertengkar karena tidak ada lagi yang bersedia untuk mengalah dan kita tidak bisa untuk berkata, “Ini prinsip dan ini prinsip” pada akhirnya tidak bisa hidup dengan orang yang seperti itu.

GS : Sulitnya lagi sifat yang tidak mau mengalah, tidak terasa atau tidak terlalu nampak ketika masih berpacaran dan baru ketika mereka memasuki hidup pernikahan, mereka menyadari bahwa pasangannya ini adalah seseorang yang tidak mau mengalah. Dan ini bagaimana, Pak Paul ?

PG : Seringkali pada masa berpacaran memang tidak kelihatan dengan jelas, maka pada waktu berpacaran kita harus tahu siapa pasangan kita dan bukan hanya lewat pengetahuan kita, tapi lewat pengetahuan orang lain juga yang mengenal dirinya. Misalnya orang itu memang orang yang sukar mengalah, kemungkinan besar dia juga tidak punya teman dan sahabat, sebab sukar bagi orang bersahabat dengan dia, maka kita harus mencari tahu tentang dia dari sumber-sumber lain sebanyak-banyaknya sehingga makin tepat pemahaman kita tentang siapa diri.

GS : Apakah ada hal-hal yang bisa kita lakukan untuk menolong pasangan kita sekaligus menolong diri kita sendiri, Pak Paul ?

PG : Ada. Kalau misalnya pasangan kita adalah seorang pribadi yang tidak suka mengalah, cobalah beberapa hal ini. Yang pertama, jangan terlibat dalam perdebatan dengan dia, sebab dengan orang seperti ini perdebatan tidak akan membuahkan hasil. Jadi berdiamlah sewaktu dia mulai memerlihatkan sikap tidak mau mengalah dan kita diam saja jangan dilawan, karena dia sudah cukup senang, karena sebetulnya dia mau menarik kita masuk ke dalam kancah perkelahian atau pertentangan, jangan biasakan, karena kadang-kadang kita terpancing, Pak Gunawan. “Saya tidak terima, saya mau koreksi dan saya mau luruskan dia” kita tidak akan menang, sebab kalau orang tidak mau mengalah dan maunya menang seringkali kita tidak akan menjadi menang. Jadi lebih baik kita diam, percuma dan kita harus berkata, “Kalau saya ladeni ini tidak akan ada habisnya”.

GS : Seringkali mereka hanya berkata, “Yang penting apa yang dia pikirkan harus menjadi kenyataan” dan dia tidak mau mendengarkan orang lain padahal kita adalah pasangannya, kalau dia tidak mau mendengarkan dari kita yang begitu dekat apalagi diberitahu oleh orang lain, Pak Paul.

PG : Jadi memang akan sangat sukar kalau orang sudah berkata seperti itu. Jadi jangan kita terlibat dan akhirnya terseret masuk ke dalam pertengkaran demi pertengkaran dengan dia dan mencoba dia mengaku salah dan membuat dia mengetahui kalau memang dia keliru kali ini, itu tidak akan terjadi sebab kalau dia tidak mau maka tidak mau.

GS : Seringkali yang memunculkan perdebatan itu justru orang-orang yang tidak mau kalah karena melalui perdebatan itu maka dia akan kelihatan menang terus, Pak Paul.

PG : Betul sekali. Jadi kalau kita biarkan diri kita terseret ke dalam kancah perdebatan maka kita memang hanyalah memberi dia konsumsi untuk dia terus begitu. Jadi lebih baik jangan diladeni, kalau dia ngotot maka diam saja dan jangan ditanggapi.

GS : Tapi kalau hanya bersikap pasif tidak meladeni atau tidak menanggapi, itu tidak cukup apakah ada langkah yang berikutnya, Pak Paul ?

PG : Setelah suasana menjadi lebih dingin, sudah tidak lagi bertengkar maka katakan kepadanya bahwa kita tidak setuju dengan keputusannya itu dan bahwa kita meminta waktu yang lebih panjang untuk berdiskusi dengannya. Oleh karena perdebatan verbal tidak membuahkan hasil maka cobalah dengan diskusi lewat tulisan atau surat elektronik atau pesan singkat, harapannya adalah mudah-mudahan dengan media tulisan maka dia tidak cepat terpancing emosinya, sehingga lebih dapat mendengarkan sisi kita. Kita jelaskan dengan bahasa tulisan, jadi cobalah dengan cara itu dan waktu kita sedang menuliskan keluh kesah kita maka hindarkan penggunaan kata “Kamu dan kamu” yang akan menyalahkan dia, ketika dia mendengar kata-kata seperti itu maka dia akan siap membela diri. Sebaliknya hanya ceritakanlah dampak perbuatannya, tindakannya, keputusannya pada diri kita. Misalkan gara-gara kamu begini dan begini hati saya sangat terluka dan sedih sekali, saya berusaha melakukan yang terbaik tapi akhirnya menjadi begini. Jadi kita hanya menceritakan dampak dari semua itu terhadap diri kita. Dengan kata lain, kita gunakan bahasa tulisan secara tidak langsung supaya dia tidak cepat bereaksi dan dia bisa membaca dengan tenang dan dia bisa lebih memikirkan tindakan yang lebih tepat sebab dia memang sedang sensitif, kalau orang yang memang sedang sensitif seperti itu maka tidak bisa diajak bicara langsung dan dia akan terseret ke dalam pertengkaran.

GS : Tapi ini menjadi sesuatu yang tidak lazim dilakukan, kita serumah tapi surat suratan pakai media tulis, dan tidak semua orang mahir mengungkapkan isi hatinya lewat tulisan. Ada yang lebih gampang untuk berbicara.

PG : Memang kalau masih bisa diajak bicara, dia sedang tenang baik-baik bicara, “Saya belum selesai tadi, apakah ada waktu, apakah saya bisa bicara” atau kita berkata, “Saya akan bicara satu kalimat saja, saya minta kamu mendengarkan saja dan saya tidak mengharapkan kamu menjawab saya, coba tolong pikirkan saja apa yang saya katakan”. Kemudian kita katakan dengan singkat satu kalimat apa yang tadi kita rasakan akibat keputusan atau perbuatannya, setelah itu kita diam dan kita jalan.

GS : Atau kalau dia mulai perdebatan lagi maka kita berhenti lagi. Artinya dia belum siap untuk diajak berdiskusi secara dewasa, Pak Paul.

PG : Betul. Jadi dengan kata lain kita harus lebih bisa mengatur cepat lambatnya diskusi kita. Kita mau tetap sampaikan kepada dia, kita tidak mau memberi dia ruang atau gerak semaunya karena itu juga buruk tapi kita mau mengatur strategi sehingga kita dengan perlahan-lahan mengatakan kepada dia apa yang menjadi keprihatinan kita.

GS : Bagaimana kalau kita ketemu dengan pasangan yang tipe orang tidak mau dirugikan, Pak Paul ?

PG : Kalau memang dia tipe yang tidak mau dirugikan atau tidak mau berkorban sama sekali, maka saya sarankan perlihatkanlah niat baik untuk berkorban kemudian tanyakanlah kesediaannya untuk juga berkorban. Pada dasarnya kita mengajaknya untuk mengembangkan sikap rela berkorban atau menderita kerugian, namun kita harus melakukannya dengan hati-hati serta sedikit demi sedikit, harapan saya adalah bila dia melihat kita bersedia mundur selangkah, dia pun terpaksa atau lebih terdorong untuk mundur selangkah. Jadi kalau orang itu kelihatan tidak mau rugi maka kita misalnya didalam ketidaksesuaian pendapat kita katakan, “Baiklah kalau begitu saya akan mundur selangkah dan saya akan korbankan ini” sekarang pertanyaan saya adalah, “Apa yang akan kamu lakukan, pengorbanan apa yang akan kamu lakukan ?” Misalkan kita akan putuskan pindah kota atau tidak, kita sudah setuju dengan perusahaan bahwa kita akan ikut pindah ke sana, tapi pasangan kita tidak setuju. Misalnya terjadi pertentangan dan dia tidak bisa diajak bicara dan selalu dia harus dirugikan maka dia tidak akan mau mundur sama sekali. Kita harus berkata, “Baiklah kalau begitu saya akan bersedia mundur dan saya tidak akan ikut, saya tidak akan pindah tapi saya tanya kepada kamu, “Apa dari pihakmu yang akan kamu lakukan untuk saya sehingga kamu juga bisa berkorban untuk saya ?” kita tanyakan itu. Waktu kita mulai mengatakan hal seperti itu maka lama-lama mengingatkan dia bahwa kalau dia mau menuntut sesuatu dari kita maka dia harus pikirkan sesuatu yang dia juga harus korbankan dan mudah-mudahan lama-kelamaan dia ingat dan lama-lama dia terpaksa lakukan itu juga. Mudah-mudahan kalau dia mulai rela berkorban walaupun hanya sedikit, dia lebih terbiasa untuk mengalah.

GS : Itu juga bisa ditafsirkan oleh orang seperti itu sebagai suatu tuntutan, ini adalah tawar menawar, kamu mundur selangkah dan saya mundur selangkah, salah-salah kita mundur selangkah dan dia maju selangkah !

PG : Mungkin saja. Tapi kalau dia harus maju selangkah dan kita mundur selangkah maka kita katakan, “Tunggu, saya sudah mundur selangkah dan sekarang yang saya tanya adalah apa yang akan kamu lakukan untuk juga kamu mundur selangkah ?” Betul ini adalah tawar menawar, tapi untuk orang seperti dia memang harus digunakan cara seperti ini yaitu dia harus dibiasakan mundur selangkah dengan sedikit paksaan, sebab kalau tidak dia tidak akan mundur selangkah sebab dia tidak mau rugi sama sekali makanya dia tidak mau mengalah sebab baginya mengalah berarti rugi. Orang yang sedikit-sedikit merasa dirugikan sehingga tidak mau mengalah lebih termotivasi untuk mengalah atau rugi kalau melihat kita juga rugi, dia rasanya lebih bisa terima atau lebih puas, “Baiklah saya mengalah” sebab dia mengalah karena dia melihat kita rugi. Tapi kalau dianya harus rugi sendirian dan dia tidak melihat kita rugi, maka tidak mungkin dia mau rugi. Maka untuk sementara lakukan itu dulu dan ini memang bukan langkah yang ideal tapi ini suatu permulaan.

GS : Yang bisa kita lakukan mungkin memberikan contoh teladan nyata kepada dia bahwa mengalah itu bukanlah kalah lewat dia melihat kehidupan ini bahwa ternyata mengalah itu tidak apa-apa dan barulah dia mau.

PG : Betul. Jadi waktu dia melihat bahwa ternyata orang yang mengalah diberkati Tuhan. Mungkin saja dia lebih terdorong untuk begitu.

GS : Langkah yang lain apa, Pak Paul ?

PG : Yang terakhir adalah selalu biasakan untuk berdoa bersama tatkala menghadapi jalan buntu. Di dalam doa pilihlah kata yang bijak, sehingga pasangan kita tidak merasa dipojokkan sebaliknya bawalah ke hadapan Tuhan persoalan yang dihadapi. Kita harus percaya bahwa di dalam doa, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita sehingga hati yang keras dapat dilunakkan. Jadi biasakan diri untuk berdoa bersama.

GS : Wujud kelemah lembutan memang seringkali akan mengalahkan kekerasan hati seseorang. Itu seringkali terjadi dan bisa dicoba.

PG : Betul. Dan waktu mulut kita tidak bisa lagi mengubah hatinya maka bawalah di dalam doa bersama dengan dia dan suara Tuhan perlahan-lahan dapat mengubah hatinya.

GS : Yang agak sulit memang kalau dia diajak berdoa pun tidak mau, Pak Paul.

PG : Kalau itu yang terjadi maka kita harus berdoa sendiri untuk dia.

GS : Itu artinya orang yang seperti itu mengeraskan hati, bukan hanya kepalanya tapi yang keras juga hatinya.

PG : Betul.

GS : Satu-satunya yang bisa melunakkan adalah Tuhan sendiri. Apakah ada ayat firman Tuhan yang ingin Pak Paul sampaikan sehubungan dengan ini ?

PG : Amsal 15:33 firman Tuhan berkata, “Takut akan TUHAN adalah didikan yang mendatangkan hikmat, dan kerendahan hati mendahului kehormatan”. Kita tahu kerendahan hati adalah syarat untuk kita akhirnya bisa mengalah. Sikap dari tidak mau mengalah sebetulnya adalah buah dari kesombongan maka cara untuk mengubahnya adalah dengan hidup takut akan Tuhan. Jadi ajak pasangan datang kepada Tuhan sehingga takut akan Tuhan dalam dirinya dapat kembali bertunas sehingga dari takut akan Tuhan itu pada akhirnya akan muncul kerendahan hati dan dari kerendahan hati barulah muncul sikap yang bersedia mengalah.

GS : Saya percaya sekali perbincangan ini akan menjadi berkat, menjadi penghiburan, menjadi arahan khususnya bagi pasangan-pasangan yang mendapatkan suami atau istri yang tidak mau mengalah. Terima kasih Pak Paul untuk perbincangan ini. Dan para pendengar sekalian kami mengucapkan banyak terima kasih Anda telah mengikuti perbincangan kami dengan Bp. Pdt. Dr. Paul Gunadi, dalam acara Telaga (Tegur Sapa Gembala Keluarga). Kami baru saja berbincang-bincang tentang “Tidak Mau Mengalah”. Bagi Anda yang berminat untuk mengetahui lebih lanjut mengenai acara ini silakan menghubungi kami lewat surat. Alamatkan surat Anda ke Lembaga Bina Keluarga Kristen (LBKK) Jl. Cimanuk 56 Malang. Anda juga dapat menggunakan e-mail dengan alamat telaga@indo.net.id kami juga mengundang Anda mengunjungi situs kami di www.telaga.org. Saran-saran, pertanyaan serta tanggapan Anda sangat kami nantikan, akhirnya dari studio kami mengucapkan terima kasih atas perhatian Anda dan sampai jumpa pada acara TELAGA yang akan datang.

Ringkasan

Isi:

Pernikahan menuntut pasangan untuk saling menyesuaikan diri. Di dalam proses menyesuaikan diri kadang kita terlibat konflik akibat perbedaan yang ada. Nah, untuk dapat menyelesaikan konflik diperlukan sikap rela mengalah. Masalahnya adalah kadang kita tidak mudah mengalah dan memang ada sebagian yang memiliki sikap tidak mau mengalah. Marilah kita lihat sikap tidak mau mengalah ini dengan lebih saksama.
Sikap tidak mau mengalah bukanlah sikap kompetitif—kendati keduanya memunyai persamaan. Bila sikap kompetitif lahir dari keinginan untuk menjadi yang terutama alias nomor satu, sikap tidak mau mengalah lahir dari dua sumber:

  1. tidak ingin mengaku salah dan
  2. tidak ingin dirugikan.

Marilah kita perhatikan kedua sumber yang melahirkan sikap tidak mau mengalah ini.

    1. Tidak ingin mengaku salah
      Bila kita dibesarkan di dalam keluarga yang sarat kritikan, besar kemungkinan kita akan mengembangkan sikap sensitif terhadap kritikan. Begitu pekanya kita terhadap kritikan, sehingga apa pun yang beraroma kritikan, pasti kita halau dan lawan. Bila pasangan kita seperti ini, tentulah sulit buat kita mencapai titik temu dalam perbedaan pendapat. Sasarannya hanyalah satu yaitu ia benar—tidak peduli apakah memang ia benar atau salah. Apa pun yang kita lakukan untuk menjelaskan duduk masalah, biasanya akan menemui jalan buntu. Pada akhirnya kita enggan untuk berdiskusi dengan pasangan.

    1. Tidak ingin dirugikan
    Ada pula orang yang tidak mau mengalah, sebab baginya mengalah berarti dirugikan. Mungkin orang ini memunyai masalah dengan ketamakan. Bagi orang seperti ini, mengalah berarti kehilangan sesuatu yang berharga. Masalahnya adalah, hampir semua hal dianggapnya berharga. Itu sebabnya ia terus memper-tahankan pendapat atau posisinya sebab baginya ia tidak boleh kehilangan suatu apa pun. Mungkin ia lahir dan besar dalam keluarga yang minim, sehingga ia harus berjuang untuk hidup. Itu sebabnya segala hal menjadi penting—termasuk dan mungkin terutama, harga dirinya. Sudah tentu tidak mudah hidup bersama dengannya. Pernikahan mengharuskan kita untuk melepaskan hal-hal yang kita anggap penting. Sebab, kalau dua-dua bersikeras bahwa segalanya penting dan tidak boleh dikompromikan, akhirnya kita tidak akan dapat mencapai keselarasan.

Menghadapi Pasangan yang Tidak Mau Mengalah
Jika pasangan adalah seorang pribadi yang tidak suka mengalah, beberapa tindakan berikut ini dapat dicoba untuk diterapkan.

  • Pertama, jangan terlibat dalam perdebatan dengannya, sebab perdebatan tidak akan membuahkan hasil. Jadi, berdiamlah sewaktu ia mulai memperlihatkan sikap tidak mau mengalah.
  • Kedua, setelah suasana menjadi lebih dingin, katakanlah kepadanya bahwa Anda tidak setuju dengan keputusannya itu dan bahwa Anda meminta waktu yang lebih panjang untuk berdiskusi dengannya. Oleh karena perdebatan verbal tidak membuahkan hasil, cobalah dengan diskusi lewat tulisan alias surat elektronik atau pesan singkat. Harapannya adalah, dengan media tulisan, ia tidak cepat terpancing emosinya sehingga lebih dapat mendengarkan sisi Anda. Coba hindarkan penggunaan kata, “kamu” terhadapnya; sebaliknya, bagikanlah dampak keputusan itu pada diri Anda. Ingat, ia sensitif dan cepat defensif bila merasa disalahkan.
  • Ketiga, bila ia tipe yang tidak mau dirugikan atau berkorban sama sekali, perlihatkanlah niat baik untuk berkorban kemudian tanyakanlah kesediaannya untuk juga berkorban. Pada dasarnya kita ingin mengajaknya untuk mengembangkan sikap rela berkorban atau menderita kerugian namun kita mesti melakukannya dengan hati-hati serta sedikit demi sedikit.
  • Terakhir, selalu biasakan untuk berdoa bersama tatkala menghadapi jalan buntu. Di dalam doa, pilihlah kata yang bijak sehingga ia tidak merasa dipojokkan. Sebaliknya, bawalah ke hadapan Tuhan persoalan yang dihadapi. Kita harus percaya bahwa di dalam doa, Roh Kudus bekerja di dalam hati kita, sehingga hati yang keras dapat dilunakkan.

Nasihat Firman Tuhan: “Takut akan Tuhan adalah didikan yang mendatangkan hikmat dan kerendahan hati mendahului kehormatan” (Amsal 15:33) Sikap tidak mau mengalah adalah buah dari kesombongan. Itu sebabnya cara untuk mengubahnya adalah dengan hidup takut akan Tuhan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s